Sunday, October 20, 2013

Daun

Ada waktu kehijauan
Ada waktu jingga keperangan
Ada waktu warnamu sejuk kegelapan
Ada waktu warnamu terang memberi harapan
Pelbagai rupamu yang indah kadang-kadang mampu menenangkan hati yang gundah

Saat senja melabuh tirai
Hatinya menangis
Bertanya ia kepada senja
Apakah tidak ingin cepat-cepat berginjak dari langit?
Supaya digantikan dengan terangnya cahaya bulan?
Saat tirai malam berlabuh
Hatinya juga menangis
Bertanya ia kepada malam
Apakah tidak ingin mendesak munculnya sang mentari?
Saat mentari belum muncul lagi
Hatinya masih menangis. Mengapa?
Kerana rindukan pada sinar mentari yang dibutuhkan seluruh makhluk alam

Ketika sang bayu meniup lembut pelupuk
Melambai-lambai
Beralun-alun
Mengikuti ke mana saja arah bayu menghembus
Bertahan untuk berpaut pada ranting
Mencuba agar diri tidak terlepas dari ranting

Setelah terlalu letih berpaut, bergayutan pertahankan kesetiaan pada ranting
Yang tak pernah menoleh saat teriakan menengking
Dirimu tetap pergi meninggalkan ranting
Menguning layu
Dan luruh bersatu menyembah ke bumi

Namun dirimu tidak pernah menyalahkan sang bayu
Yang membuatmu jatuh, sakit dan layu
Tidak melawan
Malah mengikhlaskan semuanya

Hebatnya daun menjalani hidup
Timbul persoalan
Mengapa tidak boleh ia tinggal lebih lama lagi di genggaman jari-jari ranting hingga sampai saatnya mereka sama-sama menguning kelayuan??















Nota Kaki : Soul searching..

0 komen:

Post a Comment